KARAKTERISTIK PENDIDIKAN PESANTREN; SEBUAH POTRET
DOI:
https://doi.org/10.47732/alfalahjikk.v18i1.56Abstrak
Islamic boarding schools have always been considered as a barrier to progress because they are considered educational institutions or religious social institutions that do not respond to change. Even so, there is no doubt that from the womb of the pesantren there have been many figures who have contributed to this country. Pesantren as a legacy of the past Indonesian Muslims grew up in the community to serve their various needs. He can serve the needs of education when people need it, especially when modern educational institutions that are generally formal, have not been able to penetrate into rural areas. At that time, even now, the pesantren world has become a symbol that connects the rural world with the outside world. Keywords: Characteristics, Pesantren, Education, Existence.Referensi
Ali, Nijar & Ibi Syatibi. (2009). Manajemen Pendidikan Islam; Ikhtiar menata kelembagaan Pendidikan Islam. Bekasi: Pustaka Isfahan.
Departemen Agama RI. (2003) Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Pertumbuhan dan Perkembangannya. Jakarta: Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.
Dhofir, Zamakhsyari. (2015). Tradisi Pesantren, Studi Pandangan Hidup Kiai dan Visinya Mengenai Masa Depan Pesantren. Jakarta: LP3ES.
Faisal, Jusuf Amir. (1995). Reorientasi Pendidikan Islam. Jakarta: Gema Insani Press.
Forum Pesantren. (2007). Praksis Pembelajaran Pesantren. (ed. Dian Nafi’). Yokyakarta: Instite for Training and Development (ITD).
Haedari, Amin & Ishom El-Saha. (2008). Peningkatan Mutu Terpadu Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jakarta: Diva Pustaka.
Hasbullah. (1996). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Lihat Clifford Geertz. (1983). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya.
Mas’ud, Abdurraham. (2004). Intelektual Pesantren, Perhelatan Agama dan Tradisi. Yogyakarta: LKiS.
Madjid, Nurcholish. Bilik-bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Dian Rakyat, t.th.
Mastuhu. (1994). Dinamika Sistem Pendidikan Pwsantren: Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS.
Masyhud, Sulthon dkk. (2008). Manajemen Pondok Pesantren. (ed.) Mundzer Supatra & Amin Haedari. Jakarta: Diva Pustaka.
Muhtarom H.M. (2005). Reproduksi Ulama di Era Globalisasi Resistensi Tradisional Islam. Yokyakarta: Pustaka Pelajar.
Mujahidin, Endin. (2005). Pesantren Kilat Alternatif Pendidikan Agama di Luar Sekolah. Jakarta: Pustaka Kautsar.
Qomar, Mujamil. (2004). Pesantren: Dari Tranformasi Metodologi Menuju Demokrasi Institusi, Jakarta: Erlangga.
Raharjo, M. Dawam (1985). Pergulatan Dunia Pesantren, Membangun Dari Bawah. Jakarta: P3M.
So’an, Sholeh. (2002). Tahlilan, Penelusuran Historis atas Makna Tahlilan di Indonesia. Bandung: Agung Ilmu.
Soeleman. (2008). Atologi Sejarah, Istilah, Amaliyah, Uswah NU. Surabaya: Khalista.
Sulaiman, In’am. (2010) Masa Depan Pesantren, Eksistensi Pesantren di Tengah Gelombang Modernisasi, Malang: Madani.
Umiarso, Zazin Nur. (2011). Pesantren (di Tengah Arus Mutu Pendidikan). Semarang: Rosail Group.
Yafie, Ali. (1994) Menggagas Fiqih Sosial, Dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi Hingga Ukhuwah. Bandung: Mizan.
Zuhri, Saifuddin. (2013). Guruku Orang-orang Dari Pesantren. Yogyakarta: LKiS.
##submission.downloads##
Terbitan
Bagian
Lisensi
Syarat yang harus dipenuhi oleh Penulis sebagai berikut:- Penulis menyimpan hak cipta dan memberikan jurnal hak penerbitan pertama naskah secara simultan dengan lisensi di bawah Creative Commons Attribution License yang mengizinkan orang lain untuk berbagi pekerjaan dengan sebuah pernyataan kepenulisan pekerjaan dan penerbitan awal di jurnal ini.
- Penulis bisa memasukkan ke dalam penyusunan kontraktual tambahan terpisah untuk distribusi non ekslusif versi kaya terbitan jurnal (contoh: mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan penerbitan awalnya di jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk mem-posting karya mereka online (contoh: di repositori institusional atau di website mereka) sebelum dan selama proses penyerahan, karena dapat mengarahkan ke pertukaran produktif, seperti halnya sitiran yang lebih awal dan lebih hebat dari karya yang diterbitkan. (Lihat Efek Akses Terbuka).



